Senin, 12 September 2011

Engkau yang mana?

Engkau yang Mana?



Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya
mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu
bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan.
Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.



Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia
mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor.
Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak
merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam
panci terakhir.



Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan
menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh
ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api.



Dia menyisihkan lobak dan meletakannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan
meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain.



Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, Nak?"



"Lobak, telur dan kopi", jawab si anak.



Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui
bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan
memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang
matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika
meminum kopi dengan keharuman aroma. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa
arti semua ini, ayah?"



Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahawa ketiga bahan itu telah
menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas
tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus
kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi
lembut dan mudah dimakan. Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa
cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk kopi pula
mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk
kopi mengubah warna dan rasa air tersebut.



"Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama
kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan
itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ?



Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?" tanya ayahnya.



Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi
dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan
kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya
memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya
kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan
akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku.



Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan
jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah
air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah
dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk
kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi
semakin baik dan membuat keadaan disekitar kita juga menjadi semakin baik.



Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar