secercah bias sinar mentari, melesat di kejauhan... membuat temaram dini hari pecah berganti terang benderang yang cerah.... dari atas bukit ini aku merasakan hawa sejuk hari baru.... burung-burung di pohon tua yang soliter, bercicit, mengalunkan lagu merdu pujian pada sang pencipta hari baru.....
ku hirup nafas dalam-dalam... seakan ini regukan nafasku yang pertama ketika aku hadir di dunia ini... semuanya begitu indah dan menggairahkan.....
".... jadi kau sudah bicara denganya...." tiba-tiba suara kakak memecah keheningan...
aku menengok setelah membuka mataku ..... dia dengan tajam menatapku.... semribit angin menggoyangkan anak rambut yang menjuntai di atas keningnya.....
" ... sudah... aku sudah bicara dengan nya.... " aku menjawabnya dengan datar..... dan kembali aku memalingkan pandanganku ke cakrawala yang mulai benderang....
lalu dia menyambung..
" syukurlah... meski aku yakin tidak akan sepenuhnya selesai... namun ini sudah capaian yang baik...baik untuk mu dan baik pula untuk nya.... aku bahagia... dan aku yakin kalian berdua juga bahagia... karena hakekatnya sudah jelas sejak awal bahwa kalian ingin saling membahagiakan... maka melepaskan demi kebahagiaan itu lebih membahagiakan. .... lihatlah burung-burung itu... mereka lebih bahagia saat lepas bebas seperti ini... sangkar emas tiada artinya...
'lalu apa rencanamu... dengan hidupmu ...?"
aku menghela nafas... dan mataku tertuju pada burung-burung pipit yang berkejaran di langit pagi yang cerah..... aku menyungging senyum dan berpaling memandangi kakakku....
"aku sudah punya rencana.... aku ingin membahagiakan mereka yang dekat di hatiku... dimana mereka itu berada... paling tidak aku akan berdoa agar kebahagiaan selalu melingkupi mereka yang dekat di hatiku... melihat mereka bahagia... membuatku bahagia juga...."
kakakku tersenyum... dan kami kembali memandang cakrawala dari atas bukit.... menikmati kuasa Tuhan... karya tanganNya sendiri...
dalam batin aku berbisik
" Tuhan terima kasih.... aku ingin dekat padaMu... seperti aku ingin dekat dengan mereka yang telah menjadi dekat di hatiku.... jauhkanlah daripadaku segala yang menjauhkan aku dari padaMu... dan juga jauhkanlah aku dari segala yang menjauhkan aku dari mereka yang telah dekat di hatiku...selamanya..."
Kamis, 16 Juli 2009
mengapa sore ini aku mengenangkanmu namun hanya rasa sakit dan pilu yang kurasa. apakah mungkin karena aku membayangkanmu dalam pelukannya yang mesra. apa hakku untuk punya rasa cemburu? engkau bukanlah milikku walau katamu kau mencintai aku dan tak ingin aku mengurangi rasa cintaku padamu.
mengapa sore kemarin aku mengenangkanmu dan rasa bahagia yang mengalir deras dalam kalbu. apakah mungkin aku melihatmu tersenyum dengan mata terpejam dalam pelukan cinta dari seorang yang menyayangi mu... dan demi melihat itu aku pun turut bahagia....
entahlah... ini hanya rasa... ketika jiwa menerawang cinta lama... yang terhalang waktu dan masa.... terlunglai tanpa daya ku.... dalam kenangan akan waktu yang telah berlalu....
Malam mendekap sepi penuh manja Membuatku iri kepadanya Disini, Hanya hanya bayangmu yang menari Diantara keluar masuk nafasku yang kian memburu
Lalu bagaimana aku menuangkan rindu ini Agar aromanya jelas terasa diantara langit malam Menyempurnakan bisikan cinta yang terasa merindu Ooh….terasas hampa ruangan ini tanpa senyummu Dan ranjangpun enggan menidurkan aku
Aku berbisik tentang sepi pada angin Yang mengintipku dari jendela kamar kita Aku bercerita pada ponsel Tentang rasa rindu ini yang aku kabarkan lewat aksara
Semoga engkau segera kembali Lalu kita bercanda, marah, ngomel bersama lagi
by: EJ@sarikata.com
Sabtu, 27 Juni 2009
aku berlari ke bukit.... tubuhku terasa ringan.... seperti kapas yang dihembus angin... seperti bunga ilalang ... yang bertaburan dari buluhnya... ketika angin pegunungan menyapu bukit ini....
aku terus berlari... sampai ke puncak bukit itu.... ku hirup hawa sedalam-dalam nya... aku tak tahu harus bagaimana mengungkapkan apa yang kurasakan... akhirnya aku berteriak....
Terima kasih wahai mentari.... terima kasih wahai rumput kering terima kasih wahai pohon yang gagah terima kasih wahai angin... terima kasih wahai burung parkit kecil terima kasih padang ilalang...
karena kalian telah setia menemani aku... di kala rindu menggebu di kala rindu menyiksa di kala rindu mendamba di kala rindu menyesakkan relung jiwa di kala rindu membenamku dalam rasa nan sepi di kala rindu melelehkan bulir air di sudut mata di kala rindu seakan tak tertahankan...
semua kini terbayar sudah... ketika serangkai kata mengalun bagai gelombang lautan menuju pantai ketika serangkai kata berhembus bagai angin senja ini yang menyejukkan relung nurani ketika serangkai kata membasuh semua jelaga rasa yang masih tersisa
rindu ku rindu nya luluh bagai buluh terkulai... namun segera tumbuh menggunung menembus langit asmara setinggi-tinggi mendaki-daki rasa nya...
lalu ku pejamkan mata.. terbayang senyum kekasihku... dia tersenyum padaku.... senyum yang hanya bisa kubayangkan selalu... semoga bukan untuk selamanya.... dan kini kutahu ... penantianku tidak akan pernah sia-sia... asa itu selalu ada.... kini dan senantiasa... karena cinta semakin membara di dalam dada.
"Dan kelak, yang paling penting, bukan berapa lama tahun yang kamu lewati. Tetapi, bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sepanjang tahun- tahun tersebut." -- Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat
APA yang akan Anda lakukan kalau tiba-tiba dokter memvonis hidup kita tak akan lama lagi? Biar pun si dokter itu bukan Tuhan yang bisa menentukan kapan saja hidup kita berakhir, tetap saja kita akan gemetar. Lutut mungkin langsung terasa copot. Hati menjadi ciut. Pikiran pun menjadi mengkeret. Dan, tak akan ada lagi, boro-boro tahun depan, bulan depan pun mungkin sudah tak ada.
Mungkin boleh juga kita kupas cerita tentang Burt Simpson. Dia ini polisi asal Seattle, Amerika Serikat. Nah, menurut dokter setelah memeriksa hasil laboratorium yang rutin Simpson lakukan, hidup Simpson diramal tak lebih dari dua minggu lagi. Simpson tentu saja terkejut. Awalnya, dalam tugas sehari-hari, Simpson sangat takut bila tertembak penjahat. Tapi kemudian malah berubah menjadi berani, bahkan boleh dibilang nekat. Simpson malah mencari-cari risiko berhadapan dengan maut. Sebab dalam otaknya, dia akan mati kapan saja. Buat apa harus hati-hati lagi. Kalaupun ia harus mati dalam tugas, keluarganya akan dijamin dengan tunjangan oleh negara. Tapi kalau ia mati secara alami, negara tak bisa memberikan apa-apa selain lencana. Begitu pikirannya. Eh, ternyata semua itu palsu. Vonis dokter yang mengatakan gara-gara penyakit anehnya akan membuat dia mati, tak berbuah hasil. Peluru pun malah tak mau mampir di tubuhnya. Dua minggu telah lewat, bukan hanya Simpson yang masih segar bugar, tapi juga koleksi para penjahat yang ia tangkap untuk dikirim ke hotel prodeo.
Apa yang dialami Simpson memang hanya ada di film 'Short Time'. Film komedi keluaran tahun 1990 ini menampilkan aktor kawakan Dabney Coleman sebagai Detektif Burt Simpson. Kita memang tidak perlu bersikap dan bertindak seperti Simpson, nekat dan selalu siap dalam menantang maut. Pelajaran sederhana yang dapat diambil dalam film tersebut ialah bila kita selalu mengingat akan mati, bisa jadi kita akan selalu terus berbuat baik.
Kita memang baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaan bangsa ini. Tradisi memperingati hari ulang tahun, memang berlaku untuk siapa saja. Tak hanya berlaku bagi setiap individu, tapi juga bagi suatu negara. Ulang tahun, merupakan contoh bagaimana kita memperingati suatu hari bersejarah dalam hidup kita. Oleh karena itu, setiap tahun pun biasanya kita selalu merayakannya. Mungkin secara sederhana, dengan mengajak makan bersama dengan keluarga atau kolega. Atau yang lebih wah, mengajak para teman dan handai taulan untuk pesta semalam suntuk.
Pertanyannya adalah makna apa yang sesungguhnya dapat diambil dalam setiap ulang tahun yang kita peringati? Yang pasti, dengan bertambahnya angka secara denominasi, tetapi justeru usia makin berkurang. Dengan usia yang makin berkurang, artinya kita malah makin mendekat kepada kematian itu sendiri.
Dalam suatu acara seminar, salah seorang politisi Partai Golkar, Yusuf Sukardi, menjelaskan lima arti penting dalam memperingati hal yang bersejarah dalam kehidupan kita. Pertama, peringatan harus merupakan cermin atau neraca perjalanan kehidupan. Artinya, dengan peringatan itu, kita dapat mengambil hikmah atas segala hal yang kita perbuat di masa yang telah lalu. Kedua, sebagai pembangkit motivasi. Suatu peringatan harus dapat memotivasi agar berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, serta tidak terjebak pada kesulitan yang terjadi di masa lampau. Ketiga, sebagai alat untuk melakukan introspeksi diri. Keempat, suatu peringatan harus dapat dijadikan titik awal penyusunan rencana selanjutnya yang lebih baik. Dan terakhir, yang paling penting, yaitu memaknai kehidupan hari esok yang lebih baik.
Betul, seandainya kita dapat memaknai hidup ini dengan lebih baik, tentu saja kita akan merasa bahwa waktu yang diberikan kepada kita dirasakan pendek. Kita tentu akan berusaha untuk selalu terus berbuat baik.
Itulah yang dialami oleh seorang Gitta Sessa Wanda Cantika. Walau ia harus mati di usia muda, tapi Gitta tahu, bagaimana ia memaknai hidup ini dengan penuh arti. Gitta Sessa Wanda Cantika, adalah mantan artis cilik di tahun 1999. Ia dinyatakan terkena penyakit kanker ganas yang hanya membutuhkan waktu lima hari untuk berkembang. Gitta pun pasrah melewatkan hidupnya dengan kanker ganas yang mengenai wajahnya, hingga akhirnya menyentuh paru parunya.
Tapi dia tetap tegar dan tanpa mengeluh sedikitpun. Hebatnya dari gadis ini, ia tetap ingin menuntut ilmu walau dalam keadaan seperti itu. Ejekan dari orang yang melihatnya tidak ia hiraukan. Di saat ujian kenaikan kelas, tangannya tak mampu lagi bergerak, hingga hidungnya mengeluarkan darah mimisan. Tapi Gitta tetap terus bertahan hingga ujian berakhir, dan dinyatakan lulus naik kelas. Tekadnya yang membaja terdengar ke Ibu Presiden Megawati, hingga akhirnya Presiden memberikan penghargaaan khusus padanya sebagai siswa teladan.
Umur Gitta mungkin dirasakan singkat baginya. Tapi sesungguhnya ia menjalani hidupnya dengan penuh makna. Kualitas hidup seseorang memang tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup. Tapi justeru yang lebih penting, bagaimana kita mengisi hari demi hari dalam kehidupan itu sendiri dengan penuh arti. That's right, Brother? (180808)
Sumber: Memaknai Hari Ulang Tahun oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
aku membuka tumpukan surat-surat lama, dan menemukan surat tulisanmu setahun yang lalu:
Mas, aku akan sangat sibuk hari ini dan selanjutnya dan mungkin ga sempat beremail kepadamu, maka sekarang aku mau ngucapin "SELAMAT ULANG TAHUN, SEMOGA PANJANG UMUR, SELALU SEHAT, SUKSES DAN BAHAGIA, AMIN". Aku sudah pesan kue tar cantik utk hr jdmu lusa dan aku akan tiup lilin utkmu sblm aku jelang hdp brku. Km hrs sll ykn bhw aq sll mencintaimu selamanya. Jaga kesehatan ya..., peluk ciumku menyertaimu.
tak terasa setahun sudah berlalu..... dan aku masih memegang kata-katamu, dan akan selalu begitu sampai kau inginkan yang sebaliknya:
"Km hrs sll ykn bhw aq sll mencintaimu selamanya."