Sabtu, 06 Juni 2009

pernah kau baca


kau telah membaca ini setahun yang lalu....

"dari mana kamu menyimpulkan aku mencintaimu.... apakah sikapku selama ini menunjukkan aku mencintaimu?..... apakah segala perhatian ku selama ini menunjukkan aku mencintaimu.... apakah dalam segala tawa dan tangis itu kamu menemukan diriku yang mencintaimu..... bukan diajeng, bukan seperti itu... yang benar adalah aku amat sangat mencintaimu.... bahkan ketika aku belum pernah melihat wajahmu sekalipun dalam sebuah gambar.
Aku juga bertanya-tanya mengapa aku bisa begitu amat sangat mencintaimu.... sulit untuk dijelaskan, seperti yang pernah kutuliskan padamu... menjelaskan hal ini tidak seperti menjelaskan hal yang lain, tidak ada ilmunya, tidak ada teorinya... karena ini menyangkut rasa, dan aku rasa ini telah mengejawantah dalam segala sikap dan tingkah laku yang selama ini kuarahkan kepada... dengan segenap rasa dalam batinku...
Yang jelas didirimu aku menemukan sebuah arti hidup, arti menjadi seseorang, being somebody, dan seseorang itupun menunjukkan sikap yang sebaliknya... tidak lagi peduli rupa dan raga tetapi hanya rasa.... kita juga tela sama-sama saling "berkorban diri" demi kebahagiaan yang lain....

aku akan menulis lagi... nanti malam dan kukirimkan padamu esok ..."

membayangkan











membayangkan dirimu
memeluk haru impianmu
yang sekarang nyata
teraba
terasa




membayangkan dirimu
mengecup penuh mesra
yang dulu hanya mimpi namun kini nyata
teraba
terasa

alangkah bahagia...
membayangkan dirimu
alangkah bahagia berkali laksa
menemui dirimu
dalam nyata
teraba
terasa

mimpi


aku bermimpi
engkau masih merindukan ku
engkau masih membuatkan teh untukku
secangkir teh untuk kita berdua

aku bermimpi
engkau masih mencintaiku
walau tersimpan dalam hatimu
sebagaimana ku
juga masih mencintaimu
dan tersimpan dalam hatiku

aku bermimpi
memandangi wajah mu
yang hingga kini
masih menjadi misteri

Kamis, 04 Juni 2009

berdua di bukit


"please, jangan katakan aku bodoh..." keluhku kepadanya

dia menatapku

"apa alasanku? apa alasanku sehingga kamu berpikiran aku akan mengataimu bodoh?"

aku diam.

dia berkata," coba pikirkan, apakah orang pintar kalau masih mengharapkan sesuatu yang diketahuinya pasti bahwa tidak lagi ada yang diharapkan? Apakah orang cerdas, masih merasa ada asa ketika semua sudah musnah tak berbekas?"

aku diam namun batinku bergemuruh. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang dikatakannya ada benarnya... mungkinkah karena aku tidak mau menerima kenyataan yang sudah jelas di depan mata? dan apakah ini bukti kebodohanku?

Rerumputan di depanku kulihat bergerak dan mencoba terus bertahan, walau telah coklat keemasan, kering dan bergoyang-goyang diterpa angin senja.

"kamu bisa berkata apa saja. Namun soal rasa kita tidak bisa merekayasa... biarlah dia ada apa adanya. Kamu boleh mengatakan aku bodoh. Aku akan terima itu kalau memang kamu berpikiran begitu, namun aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri." keluhku

dia kembali menatapku... ada semburat rasa iba di sana... dan setitik air bening membayang di ujung matanya.... pelan tangannya membelai rambutku... seperti biasa dilakukannya sejak kami masih kecil dulu.... aku hanya bisa tertunduk... dan kutatap rumput kering dalam debu.

senja segera luruh... kegelapan menyergap... dan bulan sabit bersinar... ah apakah ini pertanda masih ada harapan?

kubaca lagi sajak-sajak lama


kubaca lagi sajak-sajak lama
tentang kita
ketika hari-hari kita membara
dan udara penuh hawa cinta

kubaca lagi sajak-sajak lama
tentang kita
ketika kubuka hari
dengan harapan pasti
berjumpa denganmu

kubaca lagi sajak-sajak lama
tentang kita
ketika nadi bergetar hebat
dan dada bergemuruh riuh
menahan rasa terbakar
oleh api cinta yang berpijar

kini aku merasa hangat
di dalam sini
dan kucukupkan diriku
dengan itu
karena tak mungkin
bagiku dan bagimu
untuk melawan waktu

----------------------------------------
Kabar untukmu sayang Kuncup senja menari diujung embun Kicau burung kenari menyiramkan kata Membaitkan deretan kalimat bernuansa cinta Indah….menawan kalbu dua manusia Meretas senja menabur serbuk pelangi Menuai harapan yang indah bersamamu Menyemai benih-benih cinta dalam hangatnya pelukan Dekapan yang selalu kita rindukan Aku hadir disini untuk memberikan kabar Sekeping hati telah merindukan hangatnya pelukmu Sebait puisi telah aku tulis untuk meninabobokanmu Dan semesra kecupan telah aku siapkan untuk keningmu I Love You

kutulis ini setahun yang lalu

kutulis ini setahun yang lalu,
kala cinta harus membentur waktu
yang tak pernah memihak pada kita
dan tak mau berhenti sedetikpun
berderak-derak dia berlari
ke arah pintu kepastian akan perpisahan
denganmu...

................kutuliskan dulu
dan kubaca lagi sekarang......
di pantai sunyi
di antara camar putih yang melengkingkan cinta
jejak kita telah terhapus di pasir ini
namun tetap abadi di dalam hati

---------------
"Aku kira itu yang ingin aku sampaikan padamu... sejujurnya dan semoga engkau bisa mengerti apa arti dirimu dalam hidupku.... sekali lagi aku tegaskan aku mencintaimu, engkaulah kekasih hatiku selama-lamanya... dan jangan pernah kau tinggalkan aku.
Desir lembut sang bayu menerpa
Menghalau kabut putih sebersih jiwa
Ku dengar daun pun mendesah sudah
batin kecil terhela suasana

bau rumputan menghantar hening
tersunting Sebuah rasa hati dalam buaian
bersemi tersemat waktu yang berdenting
Masih tersimpan pesona sebuah hati menawan

ada debar yang menggetarkan relung batin
ketika sebuah hati bergegas kepada cinta
meninggalkan luka dan nestapa, membawa bahagia
Menggetar gairah asa tak memilih yang lain

kukenali dirimu penawar dalam mimpiku
dalam segenap perjalanan tergegap
pesonamu hingga kina tak pudar lenyap
Membawa Rindu Sebuah Hati pada kekasih itu

Sebuah senyuman indah tak terganti
Membuat aku Selalu terus mencari
terkadang membuat hati Alpha pada diri
tapi alpha diri adalah cinta untuk sebuah hati

love u for ever"


ku tak beranjak


ku takut beranjak
karena mungkin
sebentar lagi engkau menyeruak
menyapaku menghalau sepi
dan menghapus segala rindu di hati

ku takut beranjak
karena mungkin
sebentar lagi sapa mu
kembali mengisi relung hati
dan menyalakan kembali
yang bisa menghangatkan nurani

ku takut beranjak
karena mungkin
sebentar lagi kerling senyum itu datang lagi
menyiram dahaga diri
yang lama dirundung sunyi

ku tak beranjak
karena mungkin
seperti ketika itu
kau menyapaku
dengan wajah ayumu

dan ku masih di sini
ku tak beranjak
walau sunyi merayapi