Kamis, 04 Juni 2009

berdua di bukit


"please, jangan katakan aku bodoh..." keluhku kepadanya

dia menatapku

"apa alasanku? apa alasanku sehingga kamu berpikiran aku akan mengataimu bodoh?"

aku diam.

dia berkata," coba pikirkan, apakah orang pintar kalau masih mengharapkan sesuatu yang diketahuinya pasti bahwa tidak lagi ada yang diharapkan? Apakah orang cerdas, masih merasa ada asa ketika semua sudah musnah tak berbekas?"

aku diam namun batinku bergemuruh. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang dikatakannya ada benarnya... mungkinkah karena aku tidak mau menerima kenyataan yang sudah jelas di depan mata? dan apakah ini bukti kebodohanku?

Rerumputan di depanku kulihat bergerak dan mencoba terus bertahan, walau telah coklat keemasan, kering dan bergoyang-goyang diterpa angin senja.

"kamu bisa berkata apa saja. Namun soal rasa kita tidak bisa merekayasa... biarlah dia ada apa adanya. Kamu boleh mengatakan aku bodoh. Aku akan terima itu kalau memang kamu berpikiran begitu, namun aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri." keluhku

dia kembali menatapku... ada semburat rasa iba di sana... dan setitik air bening membayang di ujung matanya.... pelan tangannya membelai rambutku... seperti biasa dilakukannya sejak kami masih kecil dulu.... aku hanya bisa tertunduk... dan kutatap rumput kering dalam debu.

senja segera luruh... kegelapan menyergap... dan bulan sabit bersinar... ah apakah ini pertanda masih ada harapan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar